⚡ Breaking
Misteri Kematian Sutrimo: Polisi Sisir CCTV Klinik Mordent Petenis Filipina kejutkan dunia setelah singkirkan juara bertahan di babak ketiga OTT Bupati Langkat: KPK Sita Platinum Rp40 Miliar Korupsi Kemenpu: Kejati DKI Tahan 3 Tersangka Baru Indonesia dan Ukraina Berbagi Gelar Juara Umum di World Para Athletics Grand Prix 2026 HUT Bhayangkara ke-80, Polres Landak Gelar Sunat Massal PLN Pastikan Pasokan Batu Bara ke PLTU Berjalan Lancar Pemanjat Indonesia Samai Legenda di Innsbruck
KALBAR

Program Makan Bergizi Gratis di Sanggau Gagal Tekan Stunting, Angka Naik Jadi 21,82%

Oleh | Juni 10, 2026 | 0 komentar | Juni 10, 2026 (diperbarui)

Sanggau, Kalbar – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pada 17 Februari 2025 di Kabupaten Sanggau belum menunjukkan hasil signifikan dalam menurunkan angka stunting. Data Dinas Kesehatan Sanggau justru menunjukkan peningkatan prevalensi stunting dari 20,50% pada 2025 menjadi 21,82% pada triwulan I 2026, atau naik 1,32%.

Wakil Bupati Sanggau, Susana Herpena, menyatakan peningkatan ini sebagai “anomali” dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. “Di tahun 2025 kita mendapat prestasi dalam penanganan stunting dengan posisi kedua se-Kalimantan Barat setelah Kota Pontianak. Tapi di tahun 2026 ini ada peningkatan kasus, ini anomali menurut saya,” kata Susana.

Susana, yang juga Ketua Satgas Percepatan Program MBG, akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG dan strategi penanganan stunting. “Kebetulan saya juga Ketua penanganan stunting. Nanti saya koordinasikan dan saya panggil OPD terkait untuk membahas persoalan stunting ini,” ujarnya.

Susana menduga salah satu faktor yang perlu dievaluasi adalah penentuan sasaran program. Daerah dengan prevalensi stunting tinggi seharusnya menjadi prioritas utama, bukan perkotaan. “Mestinya program MBG ini menyasar daerah yang angka stuntingnya tinggi, bukan di perkotaan dulu yang dibangun dapur-dapur MBG,” katanya.

Pemerintah daerah tetap mendukung program MBG dan berharap evaluasi dapat membuat program lebih efektif dalam menjawab persoalan gizi dan stunting. “Harusnya program MBG ini mampu menurunkan stunting, tapi faktanya justru angka stunting malah naik. Nanti kita evaluasi lagi,” kata Susana.

Tags:

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *