⚡ Breaking
Misteri Kematian Sutrimo: Polisi Sisir CCTV Klinik Mordent Petenis Filipina kejutkan dunia setelah singkirkan juara bertahan di babak ketiga OTT Bupati Langkat: KPK Sita Platinum Rp40 Miliar Korupsi Kemenpu: Kejati DKI Tahan 3 Tersangka Baru Indonesia dan Ukraina Berbagi Gelar Juara Umum di World Para Athletics Grand Prix 2026 HUT Bhayangkara ke-80, Polres Landak Gelar Sunat Massal PLN Pastikan Pasokan Batu Bara ke PLTU Berjalan Lancar Pemanjat Indonesia Samai Legenda di Innsbruck
KALBAR

Mahasiswa Sintang Dukung MBG dengan Catatan Kritis

Oleh | Juni 30, 2026 | 0 komentar | Juni 30, 2026 (diperbarui)

SINTANG – Aliansi Mahasiswa Senentang menyatakan dukungan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh pemerintah sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Kendati demikian, kelompok mahasiswa dari Kabupaten Sintang ini memberikan sejumlah catatan kritis yang bersifat konstruktif, terutama mengenai pemerataan infrastruktur pendidikan di daerah pelosok serta pengawasan ketat terhadap implementasi anggaran.

Dalam keterangan resminya, Aliansi Mahasiswa Senentang menilai program MBG memiliki tujuan mulia yang berpihak pada kepentingan peserta didik. Program ini dinilai berpotensi besar dalam menjawab persoalan gizi anak, menekan angka stunting, meningkatkan konsentrasi belajar, sekaligus meringankan beban ekonomi keluarga kurang mampu.

Namun, sebagai elemen masyarakat sipil yang menjalankan fungsi kontrol sosial, mahasiswa menegaskan bahwa pemenuhan gizi tidak boleh mengesampingkan persoalan mendasar lain di sektor pendidikan, khususnya di kawasan pedalaman, terpencil, dan perbatasan.

“Pemerintah perlu memastikan bahwa perhatian terhadap pemenuhan gizi peserta didik berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan. Sekolah yang memiliki makanan bergizi tetapi tidak didukung fasilitas belajar yang layak tetap akan menghadapi kendala dalam menciptakan proses pendidikan yang optimal,” tulis perwakilan Aliansi Mahasiswa Senentang dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (30/6/2026).

Berdasarkan pengamatan di lapangan, aliansi mahasiswa ini menyoroti sejumlah kendala klasik yang masih dihadapi sekolah-sekolah di daerah, seperti akses jalan menuju sekolah yang rusak parah, gedung kelas yang mengalami kerusakan, keterbatasan ruang laboratorium dan perpustakaan, hingga minimnya fasilitas air bersih, sanitasi, serta jaringan internet.

Selain itu, sebaran tenaga pendidik yang belum merata juga menjadi tantangan besar. Mahasiswa menegaskan program MBG dan pembangunan infrastruktur bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan pemenuhan kebutuhan yang sama pentingnya.

Selain menyoroti aspek infrastruktur, Aliansi Mahasiswa Senentang juga menggarisbawahi pentingnya integritas dan profesionalitas dalam pelaksanaan program MBG. Mahasiswa mengecam keras segala bentuk potensi penyelewengan anggaran maupun penurunan kualitas makanan yang dapat merugikan siswa serta keuangan negara.

Beberapa poin penyelewengan yang diwanti-wanti oleh mahasiswa antara lain praktik korupsi, penggelembungan (mark-up) anggaran, manipulasi data penerima manfaat, penyalahgunaan wewenang di dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG), hingga penggunaan bahan baku makanan yang tidak layak konsumsi atau kedaluwarsa.

“Setiap rupiah anggaran Program MBG berasal dari uang rakyat dan harus digunakan sepenuhnya untuk kepentingan peserta didik Indonesia. Apabila ditemukan adanya tindak pidana korupsi atau hal yang membahayakan kesehatan siswa, maka pelaku harus diproses secara hukum secara tegas, transparan, dan tanpa pandang bulu,” tegas perwakilan aliansi tersebut.

Di akhir pernyataannya, Aliansi Mahasiswa Senentang menyampaikan sejumlah rekomendasi resmi kepada pemerintah pusat dan daerah:

  1. Mendorong pelaksanaan Program MBG yang berkualitas, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
  2. Meminta pemerintah tetap memprioritaskan pembangunan serta pemerataan infrastruktur pendidikan di seluruh pelosok Indonesia.
  3. Meningkatkan pengawasan melekat pada setiap dapur SPPG dan seluruh rantai distribusi makanan dengan melibatkan masyarakat, akademisi, serta organisasi mahasiswa.
  4. Menjamin transparansi penuh dalam penggunaan anggaran agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh generasi muda.
Tags:

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *