⚡ Breaking
Petenis Filipina kejutkan dunia setelah singkirkan juara bertahan di babak ketiga OTT Bupati Langkat: KPK Sita Platinum Rp40 Miliar Korupsi Kemenpu: Kejati DKI Tahan 3 Tersangka Baru Indonesia dan Ukraina Berbagi Gelar Juara Umum di World Para Athletics Grand Prix 2026 HUT Bhayangkara ke-80, Polres Landak Gelar Sunat Massal PLN Pastikan Pasokan Batu Bara ke PLTU Berjalan Lancar Pemanjat Indonesia Samai Legenda di Innsbruck Polres Landak Gelar Senam dan Bazar Murah HUT Bhayangkara
KALBAR

Mahasiswa Demo PLN Kalbar, Tuntut Kompensasi Mati Lampu

Oleh | Juli 7, 2026 | 0 komentar | Juli 7, 2026 (diperbarui)

KUBU RAYA – Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda Pengemban Amanat Rakyat (Solmadapar) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Kalimantan Barat, Jalan Adi Sucipto, Kabupaten Kubu Raya, pada Selasa (7/7/2026) sore.

Aksi ini dipicu oleh keresahan masyarakat atas pemadaman listrik berkepanjangan yang melanda wilayah Kalimantan Barat beberapa waktu terakhir. Massa aksi menilai pemadaman tersebut telah melumpuhkan aktivitas ekonomi dan keseharian warga.

Membawa pengeras suara dan spanduk bertuliskan “PLN SERIBU ALASAN PEMERINTAH DIAM RAKYAT JADI KORBAN”, massa yang dipimpin oleh Habib Iqbal menuntut transparansi penyebab krisis listrik dan mendesak PLN segera memberikan kompensasi ganti rugi kepada pelanggan sesuai peraturan perundang-undangan.

“Kalimantan Barat adalah salah satu daerah penghasil batu bara terbesar di Indonesia. Sangat ironis jika masyarakatnya masih harus menghadapi pemadaman listrik berulang. Kami mempertanyakan efektivitas pemeliharaan fasilitas pembangkit oleh PLN,” ujar perwakilan massa dalam orasinya.

Aksi unjuk rasa tersebut direspons langsung oleh jajaran manajemen PLN UID Kalbar. Senior Manager Distribusi, Salmon Kareth, beserta Manager Komunikasi, Mukhlis Zarkasih, menemui massa untuk memberikan klarifikasi secara terbuka.

Salmon Kareth menegaskan bahwa krisis listrik yang terjadi saat ini murni disebabkan oleh kendala teknis, bukan karena masalah pasokan batu bara. Terdapat pembangkit berkapasitas 180 MW yang mengalami gangguan sehingga suplai daya menurun drastis.

“Karena hilangnya daya sebesar 180 MW, mesin-mesin yang tersisa tidak mampu memikul seluruh beban. Agar sistem tidak ambruk atau blackout total di seluruh Kalbar, kami terpaksa menerapkan jadwal pemadaman bergilir untuk menjaga keseimbangan sistem,” jelas Salmon.

Terkait jenis kerusakan, Mukhlis Zarkasih memaparkan adanya kebocoran pada komponen boiler berskala besar. Proses perbaikan komponen tersebut diperkirakan memakan waktu hingga 10 hari sejak 2 Juli lalu.

“Tim kami bekerja all out 1×24 jam. Saat ini progres perbaikan sudah mencapai sekitar 70 persen, dan intensitas pemadaman sudah mulai membaik sejak akhir pekan lalu. Kami menargetkan sistem akan pulih total dan kembali normal paling lambat 11 Juli besok,” terang Mukhlis.
Mengenai tuntutan kompensasi yang disuarakan mahasiswa, pihak PLN menyatakan bahwa pemberian ganti rugi telah diatur mekanismenya melalui proses verifikasi, di mana keputusan akhir berada di tangan PLN Pusat.

Aksi yang berlangsung sejak pukul 15.00 WIB tersebut berjalan dengan aman dan kondusif. Setelah menyampaikan aspirasi dan mendengarkan penjelasan dari pihak manajemen PLN, massa aksi membubarkan diri secara tertib pada pukul 17.15 WIB.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *