⚡ Breaking
Polres Landak Gelar Senam dan Bazar Murah HUT Bhayangkara Demo BEM Polnep di Polda Kalbar Usut Tragedi 2000 Jelang Pilkades 2026, Kapuas Hulu Deklarasi Damai Rupiah Menguat ke Rp17.778 per Dolar AS pada Senin Prabowo Siapkan Strategi Menuju Ketahanan Energi Nasional Ramadhipa Cetak Sejarah: Kemenangan Pertama di Moto3 Junior 45.500 Pelari Serbu JAKIM 2026, Wagub: Jakarta Milik Bersama Polisi Tangkap Penipu Tiket Pelni di Kupang
Lifestyle

Orang Tua Diingatkan Siapkan Diri Hadapi Masa Transisi Anak Menjelang Remaja

Oleh | Mei 15, 2026 | 0 komentar | Mei 15, 2026 (diperbarui)

Jakarta – Masa transisi dari anak-anak menuju remaja sering menjadi titik rawan dalam hubungan orang tua dan anak. Para ahli parenting menyebut periode usia 9-13 tahun sebagai “jendela emas” yang menentukan kualitas komunikasi keluarga di tahun-tahun berikutnya.

Perubahan Fisik dan Emosi Datang Bersamaan


Dokter spesialis tumbuh kembang anak menjelaskan bahwa anak menjelang remaja mulai mengalami perubahan hormon yang memengaruhi emosi dan perilaku. “Mereka ingin mandiri, tapi belum sepenuhnya mampu mengelola perasaan. Di sinilah peran orang tua diuji,” ujarnya dalam seminar parenting pekan ini.

Perubahan ini sering membuat anak terlihat lebih sensitif, mudah tersinggung, dan mulai menjaga jarak. Bila tidak dipahami, situasi ini bisa memicu konflik yang merusak kedekatan.

Komunikasi Dua Arah Jadi Kunci

Alih-alih langsung menegur atau melarang, pakar menyarankan orang tua membangun komunikasi yang setara. Dengarkan alasan anak, beri ruang berpendapat, lalu jelaskan konsekuensi dengan bahasa yang masuk akal.

“Anak remaja awal tidak butuh ceramah panjang. Mereka butuh didengar tanpa dihakimi. Kalau merasa aman, mereka akan cerita apa saja,” jelas seorang psikolog anak.

Batasi Layar, Perkuat Waktu Berkualitas

Survei terbaru menunjukkan anak usia 10-13 tahun menghabiskan rata-rata 3-4 jam per hari di depan layar. Waktu ini sering menggeser interaksi keluarga.

Orang tua diimbau menetapkan batasan penggunaan gadget dan menggantinya dengan aktivitas bersama seperti makan malam tanpa HP, olahraga ringan, atau membaca buku bersama. Tujuannya bukan melarang, tapi memberi alternatif interaksi yang lebih sehat.

Jangan Bandingkan, Fokus pada Proses


Kesalahan umum orang tua adalah membandingkan anak dengan teman atau saudara. Perbandingan ini dinilai memicu rasa rendah diri dan menurunkan motivasi belajar.

“Setiap anak punya ritme tumbuh berbeda. Tugas orang tua adalah mendampingi proses, bukan menuntut hasil instan,” tegasnya.

Siapkan Aturan yang Fleksibel


Aturan tetap penting, tapi harus dibahas bersama. Anak yang dilibatkan dalam membuat kesepakatan keluarga cenderung lebih patuh karena merasa dihargai.

Contohnya, kesepakatan jam pulang, batas waktu bermain gadget, dan pembagian tugas rumah. Ketika anak melanggar, diskusikan konsekuensinya secara tenang, bukan dengan hukuman fisik atau kata-kata kasar.

Jadi Tempat Pulang yang Aman


Masa menjelang remaja bukan waktunya menjauh, justru waktu memperkuat fondasi kepercayaan. Orang tua yang menjadi tempat pulang yang aman akan tetap didengar meski anak mulai mencari identitas di luar rumah.

“Anak mungkin menolak dipeluk di depan teman, tapi mereka tetap butuh tahu pintu rumah selalu terbuka.”

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *