⚡ Breaking
Demo Kalbar: Cipayung Plus Tuntut Hak Buruh & Pendidikan Massa Demo Pemprov Kalbar Kecewa Gubernur Absen ​Pesona Festival Mattompang Pontianak Rawat Budaya Bugis ​Siswi SD Korban Oknum TNI di Kendari Trauma Berat Sinner Mencatat Rekor: 5 Gelar Masters Beruntun Polda Metro Bongkar Lab Narkoba Liquid Vape di Tamansari Prabowo Fokus Buruh, MPR Dorong Peningkatan Skill AI Remaja 15 Tahun Tewas dalam Kebakaran Kapal BBM Kayong Utara
kalbar news update

Nobar “Pesta Babi”: Potret Eksploitasi Hutan di Tanah Papua

Oleh | Mei 3, 2026 | 0 komentar | Mei 3, 2026 (diperbarui)

“Pesta Babi adalah tradisi turun-temurun masyarakat di Papua, namun pesta ini seolah diganti oleh pesta para penguasa. Pesta yang diundang hanyalah para elit, sementara masyarakat Papua sendiri justru tidak dapat merasakan hasil buminya.” – Sekar Banjara Aji, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia.

PONTIANAK – Isu kerusakan lingkungan dan marginalisasi masyarakat adat di Tanah Papua menjadi sorotan utama dalam acara nonton bareng (Nobar) dan diskusi film “Pesta Babi” yang digelar di Rumah Budaya, Pontianak Tenggara, Sabtu (2/4) petang.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Greenpeace Indonesia bersama Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kalimantan Barat ini menghadirkan perwakilan mahasiswa Papua, aktivis lingkungan, serta masyarakat setempat untuk membedah realita di balik eksploitasi sumber daya alam.

Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Sekar Banjara Aji, mengungkapkan bahwa film ini merupakan refleksi atas pergeseran makna tradisi di Papua. “Pesta Babi adalah tradisi turun-temurun, namun kini seolah diganti menjadi pestanya para penguasa dan elit. Masyarakat Papua sendiri justru tidak dapat merasakan hasil buminya,” tegas Sekar di hadapan peserta diskusi.

Ia juga menceritakan tantangan geografis dan keamanan selama proses produksi film yang memakan waktu cukup panjang tersebut. Menurutnya, keterlibatan masyarakat lokal dalam setiap perencanaan proyek pemerintah adalah harga mati yang sering kali diabaikan.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalbar, Indra Syahnanda, menyoroti dampak kerusakan lingkungan yang sudah merambah ke Kalimantan Barat. Ia mencatat dalam lima tahun terakhir, terdapat kerusakan hutan seluas 4.000 hektar di Balai Berkuak akibat pembukaan lahan perusahaan.

“Kita melihat kehancuran di Tanah Papua sangat dahsyat. Di sisi lain, kita juga harus waspada dengan apa yang terjadi di daerah kita sendiri akibat ekspansi lahan yang tidak terkendali,” ujar Indra.

Diskusi semakin hangat saat perwakilan Himpunan Mahasiswa Papua (Himapa), Pesmin, mengajak para pemuda untuk lebih peka terhadap isu kelestarian hutan. Ia menekankan pentingnya menjaga paru-paru dunia sebelum seluruhnya habis dibabat untuk kepentingan industri.

Dalam sesi tanya jawab, audiens yang didominasi mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan) menanyakan peran pemuda dalam isu kemanusiaan. Menanggapi hal itu, Sekar mendorong generasi muda untuk lebih aktif bersosialisasi dan mengambil posisi tegas dalam isu-isu lingkungan di keseharian mereka.

Acara yang dimulai pukul 17.30 WIB tersebut berlangsung khidmat dan berakhir pada pukul 22.48 WIB dengan sesi foto bersama sebagai penutup rangkaian kegiatan.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *