⚡ Breaking
Misteri Kematian Sutrimo: Polisi Sisir CCTV Klinik Mordent Petenis Filipina kejutkan dunia setelah singkirkan juara bertahan di babak ketiga OTT Bupati Langkat: KPK Sita Platinum Rp40 Miliar Korupsi Kemenpu: Kejati DKI Tahan 3 Tersangka Baru Indonesia dan Ukraina Berbagi Gelar Juara Umum di World Para Athletics Grand Prix 2026 HUT Bhayangkara ke-80, Polres Landak Gelar Sunat Massal PLN Pastikan Pasokan Batu Bara ke PLTU Berjalan Lancar Pemanjat Indonesia Samai Legenda di Innsbruck
kalbar news update

​Siswi SD Korban Oknum TNI di Kendari Trauma Berat

Oleh | Mei 4, 2026 | 0 komentar | Mei 4, 2026 (diperbarui)

KENDARI – Seorang siswi Sekolah Dasar berinisial AKS, 12 tahun, yang diduga menjadi korban kekerasan seksual oleh oknum anggota TNI AD Sertu Majid Bone dari Kodim 1417/Kendari, kini mengalami trauma berat.

Menurut keterangan sang bibi berinisial VN, Minggu (3/5/2026), korban mengalami depresi hingga memilih mengisolasi diri di kamar. AKS kerap melukai tubuhnya sendiri dengan mencakar serta sering berteriak histeris lantaran dihantui ketakutan.

Sebelumnya, AKS tinggal bersama keluarganya di sebuah perumahan milik terduga pelaku di Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan. Setelah kasus ini terungkap ke publik, keluarga memutuskan pindah ke rumah sang nenek di Kota Kendari demi keamanan dan pemulihan korban.

VN menjelaskan, sejak tinggal di rumah neneknya, AKS enggan beraktivitas di luar kamar. Ketika berkumpul dengan keluarga, korban hanya diam dan menutup diri. Kondisi psikisnya justru semakin terpuruk saat sendirian. Tangis histeris dan tindakan menyakiti diri kerap muncul tanpa pemicu jelas.

“Korban mengalami depresi berat. Ia sering mencakar badannya sendiri dan histeris karena ketakutan yang berlebihan,” tutur VN.

Keluarga mengaku sangat terpukul melihat kondisi AKS. Pendampingan dari psikolog anak telah diberikan, namun belum membuahkan hasil yang signifikan. “Kami terus berupaya maksimal agar AKS bisa pulih,” tambah VN.

Lebih lanjut, VN menyebut pihak TNI pernah meminta izin untuk bertemu dan mendampingi korban. Akan tetapi, permohonan tersebut ditolak keluarga. Alasannya, kondisi psikis AKS masih sangat labil dan trauma terhadap kehadiran orang asing, sehingga dikhawatirkan memperburuk keadaannya.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *