⚡ Breaking
Polres Landak Gelar Senam dan Bazar Murah HUT Bhayangkara Demo BEM Polnep di Polda Kalbar Usut Tragedi 2000 Jelang Pilkades 2026, Kapuas Hulu Deklarasi Damai Rupiah Menguat ke Rp17.778 per Dolar AS pada Senin Prabowo Siapkan Strategi Menuju Ketahanan Energi Nasional Ramadhipa Cetak Sejarah: Kemenangan Pertama di Moto3 Junior 45.500 Pelari Serbu JAKIM 2026, Wagub: Jakarta Milik Bersama Polisi Tangkap Penipu Tiket Pelni di Kupang
kalbar news update

Hari Bumi 2026: Mahasiswa Pecinta Alam Kalbar Gelar Aksi Damai

Oleh | April 22, 2026 | 0 komentar | April 22, 2026 (diperbarui)

PONTIANAK— Kawasan Taman Digulis, Pontianak, menjadi saksi bisu aksi solidaritas puluhan mahasiswa pecinta alam se-Kalimantan pada Rabu (22/4). Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi 2026, massa menggelar aksi damai untuk menyuarakan keprihatinan mendalam atas kondisi lingkungan di tanah Borneo yang kian kritis.

Dalam orasinya, para mahasiswa menyoroti berbagai praktik perusakan alam yang masif terjadi di Kalimantan. Beberapa poin utama yang menjadi keresahan massa seperti Pembukaan Lahan Masif melalui Ekspansi lahan yang tidak terkendali mengancam habitat asli flora dan fauna, Pertambangan Ilegal Aktivitas tambang tanpa izin yang mengabaikan prosedur reklamasi dan Penebangan Liar & Karhutla yang merupakan Praktik yang memicu kerusakan permanen pada ekosistem hutan tropis.

“Eksploitasi tanpa pemulihan hanya akan menghancurkan keseimbangan ekosistem dan menurunkan kualitas hidup masyarakat Kalimantan secara permanen,” ujar salah satu orator di tengah kerumunan massa.

Aksi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan sebuah tuntutan nyata bagi para pemangku kebijakan. Mahasiswa mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk dapat Menindak Tegas oknum tidak bertanggung jawab di balik perusakan hutan, Memperketat Pengawasan terhadap izin operasional industri berbasis sumber daya alam serta Mengajak Masyarakat untuk aktif melakukan mitigasi perubahan iklim dari langkah kecil.

Melalui momentum Hari Bumi ini, mahasiswa berharap kesadaran kolektif dapat terbangun demi menjaga paru-paru dunia yang tersisa di Kalimantan. Kelestarian lingkungan bukanlah pilihan, melainkan keharusan untuk generasi mendatang. (Elfredo)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *