⚡ Breaking
Misteri Kematian Sutrimo: Polisi Sisir CCTV Klinik Mordent Petenis Filipina kejutkan dunia setelah singkirkan juara bertahan di babak ketiga OTT Bupati Langkat: KPK Sita Platinum Rp40 Miliar Korupsi Kemenpu: Kejati DKI Tahan 3 Tersangka Baru Indonesia dan Ukraina Berbagi Gelar Juara Umum di World Para Athletics Grand Prix 2026 HUT Bhayangkara ke-80, Polres Landak Gelar Sunat Massal PLN Pastikan Pasokan Batu Bara ke PLTU Berjalan Lancar Pemanjat Indonesia Samai Legenda di Innsbruck
KALBAR

Aliansi Cipayung Plus Gelar Aksi May Day di Digulis

Oleh | Mei 1, 2026 | 0 komentar | Mei 1, 2026 (diperbarui)

PONTIANAK – Memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Cipayung Plus Kota Pontianak menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran Digulis, Jumat (1/5/2026) sore. Dalam aksinya, massa menyuarakan kritik tajam terkait kesejahteraan buruh dan ketidakadilan akses pendidikan.

Massa yang terdiri dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), PMKRI St. Thomas More, dan PMII Pontianak ini mulai memadati area Bundaran Digulis sekitar pukul 15.40 WIB. Dengan membawa berbagai atribut seperti bendera organisasi, spanduk, dan poster bernada protes, mereka melakukan orasi secara bergantian di tengah pengawasan aparat keamanan.

Salah satu orator dalam aksinya menegaskan bahwa kehadiran mereka di jalanan merupakan bentuk kepedulian terhadap nasib kaum buruh yang hingga kini dianggap masih jauh dari kata sejahtera.

“Kami turun ke jalan bukan demi kepentingan pribadi, melainkan untuk menyuarakan isi hati para buruh yang selama ini merasa belum benar-benar diperhatikan. Faktanya, masih banyak kaum buruh yang hidup jauh dari kata sejahtera; biaya hidup terus meningkat, sementara penghasilan sering kali tidak sebanding,” ujar salah satu koordinator aksi dalam orasinya.

Selain isu kesejahteraan umum, massa juga menyoroti kondisi memprihatinkan yang diduga dialami oleh buruh di wilayah Kabupaten Ketapang. Mereka menyebut adanya perlakuan tidak layak terkait akses sanitasi yang berdampak buruk pada kesehatan para pekerja di sana.

“Pemerintah tidak boleh menutup mata. Kita harus ingat, banyak dari kita lahir dari keluarga buruh dan petani. Kami hadir di sini untuk mempertanyakan di mana peran negara yang katanya ingin menyejahterakan rakyatnya,” tambah orator tersebut.

Aksi yang berlangsung di titik sentral mobilitas Kota Pontianak ini sempat menyebabkan perlambatan arus lalu lintas, mengingat waktu aksi bertepatan dengan jam pulang kantor. Namun, koordinasi yang baik antara massa dan petugas di lapangan memastikan situasi tetap terkendali.

Mahasiswa mengancam akan membawa massa yang lebih besar jika tuntutan dan aspirasi mereka tidak segera direspons oleh pemerintah provinsi maupun pihak terkait.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *