Aksi KORAMEL: Tuntut Supremasi Sipil & Keadilan Aktivis
PONTIANAK – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Koalisi Rakyat Melawan (KORAMEL) menggelar aksi unjuk rasa di kawasan bundaran digulis, Jalan Ahmad Yani pada Kamis (02/04/2026). Dengan payung hitam dan spanduk bertuliskan #AksiKamisan, mereka menyuarakan kegelisahan atas mandeknya penuntasan kasus kekerasan terhadap aktivis di Kalimantan Barat.
Aksi yang dikoordinir oleh Syariful Hidayatullah, Koordinator Pusat Forum Koordinasi BEM se-Kalbar (FKBK), ini merupakan gabungan dari berbagai organisasi mahasiswa seperti Solmadapar, BEM SI Kalbar, hingga BEM dari berbagai universitas di Pontianak (Untan, UNU, UPGRI, Polnep, OSO, dan UMP).
Menggugat Ketidakadilan
Dalam orasinya, Syariful menyoroti kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis Andrie Yunus yang hingga kini dinilai belum menemui titik terang. Massa mengecam tindakan pengecut tersebut dan menuntut transparansi dalam proses hukum.
”Menyiram air keras kepada aktivis adalah cara pengecut melawan pemberani,” tegas salah satu orator di tengah kepulan asap ban yang dibakar sebagai simbol kekecewaan rakyat, Kamis sore.
Selain isu kekerasan aktivis, KORAMEL membawa empat tuntutan utama yang mereka sebut sebagai upaya menjaga demokrasi:
1.Tegakkan Supremasi Sipil: Menolak dominasi jabatan sipil oleh institusi non-sipil.
2.Keadilan di Peradilan Umum: Mendesak agar kasus-kasus yang melibatkan korban sipil diselesaikan di pengadilan umum, bukan militer.
3.Kembalikan TNI ke Barak: Menekankan pentingnya profesionalisme institusi pertahanan.
4.Reformasi Polri: Menuntut transformasi institusi kepolisian agar lebih berpihak pada perlindungan masyarakat dan kebebasan berpendapat.
Simbol Perlawanan
Aksi ini diwarnai dengan teatrikal visual. Selain menggunakan payung hitam yang identik dengan perjuangan HAM, massa juga menempelkan berbagai poster bernada protes di sekitar area Bundaran Tugu Digulis. Beberapa poster bertuliskan kritik tajam seperti “Rezim Baru Deforestasi” dan “Hentikan Kriminalisasi Tarsisius Fendy Sesupi”.
Mahasiswa juga mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap lebih memprioritaskan anggaran untuk sektor keamanan dibanding penguatan sektor pertanian yang menjadi hajat hidup orang banyak.
Berjalan Kondusif
Meskipun sempat melakukan pembakaran ban sebagai bentuk protes puncak sekitar pukul 17.16 WIB, massa tetap menjaga ketertiban. Personel kepolisian tampak berjaga di sekitar lokasi untuk memastikan arus lalu lintas tetap mengalir meski sempat terjadi pelambatan kendaraan karena warga yang menoleh ke arah massa aksi.
Aksi berakhir dengan tertib pada pukul 17.50 WIB. Sebelum membubarkan diri, massa mengancam akan kembali turun ke jalan dengan jumlah yang lebih besar jika tuntutan mereka terkait keadilan bagi Andrie Yunus dan penegakan supremasi sipil tidak segera direspons secara nyata oleh pemerintah dan aparat penegak hukum. (Ferry)
Berita Terkait
kalbar news update
Polri Kerahkan 300 Brimob Atasi Karhutla Kalbar.
Jakarta — Polri memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat dengan mengerahkan 300...
kalbar news update
Polisi Ajak Mahasiswa dan Komunitas Bahas Isu PETI hingga Knalpot Brong Lewat Jumat Curhat Polres Landak
NGABANG — Polres Landak kembali menggelar program Jumat Curhat sebagai wadah komunikasi langsung antara kepolisian dan...
kalbar news update
Patroli Humanis Polres Landak Sasar Titik Rawan, Warga Diminta Manfaatkan Call Center 110
Polres Landak ~ Polda Kalbar ~ Komitmen Polres Landak dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat terus...
kalbar news update
Dugaan Korupsi Batu Bara PLTU Rugikan Negara Rp5 Triliun
JAKARTA – Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri resmi meningkatkan penanganan dugaan korupsi pengadaan pasokan...