⚡ Breaking
Demo Kalbar: Cipayung Plus Tuntut Hak Buruh & Pendidikan Massa Demo Pemprov Kalbar Kecewa Gubernur Absen ​Pesona Festival Mattompang Pontianak Rawat Budaya Bugis ​Siswi SD Korban Oknum TNI di Kendari Trauma Berat Sinner Mencatat Rekor: 5 Gelar Masters Beruntun Polda Metro Bongkar Lab Narkoba Liquid Vape di Tamansari Prabowo Fokus Buruh, MPR Dorong Peningkatan Skill AI Remaja 15 Tahun Tewas dalam Kebakaran Kapal BBM Kayong Utara
kalbar news update

​Aksi KORAMEL: Tuntut Supremasi Sipil & Keadilan Aktivis

Oleh | April 2, 2026 | 0 komentar | April 6, 2026 (diperbarui)

PONTIANAK – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Koalisi Rakyat Melawan (KORAMEL) menggelar aksi unjuk rasa di kawasan bundaran digulis, Jalan Ahmad Yani pada Kamis (02/04/2026). Dengan payung hitam dan spanduk bertuliskan #AksiKamisan, mereka menyuarakan kegelisahan atas mandeknya penuntasan kasus kekerasan terhadap aktivis di Kalimantan Barat.
​Aksi yang dikoordinir oleh Syariful Hidayatullah, Koordinator Pusat Forum Koordinasi BEM se-Kalbar (FKBK), ini merupakan gabungan dari berbagai organisasi mahasiswa seperti Solmadapar, BEM SI Kalbar, hingga BEM dari berbagai universitas di Pontianak (Untan, UNU, UPGRI, Polnep, OSO, dan UMP).


Menggugat Ketidakadilan
​Dalam orasinya, Syariful menyoroti kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis Andrie Yunus yang hingga kini dinilai belum menemui titik terang. Massa mengecam tindakan pengecut tersebut dan menuntut transparansi dalam proses hukum.
​”Menyiram air keras kepada aktivis adalah cara pengecut melawan pemberani,” tegas salah satu orator di tengah kepulan asap ban yang dibakar sebagai simbol kekecewaan rakyat, Kamis sore.
​Selain isu kekerasan aktivis, KORAMEL membawa empat tuntutan utama yang mereka sebut sebagai upaya menjaga demokrasi:
1.​Tegakkan Supremasi Sipil: Menolak dominasi jabatan sipil oleh institusi non-sipil.
2.​Keadilan di Peradilan Umum: Mendesak agar kasus-kasus yang melibatkan korban sipil diselesaikan di pengadilan umum, bukan militer.
3.​Kembalikan TNI ke Barak: Menekankan pentingnya profesionalisme institusi pertahanan.
4.​Reformasi Polri: Menuntut transformasi institusi kepolisian agar lebih berpihak pada perlindungan masyarakat dan kebebasan berpendapat.


​Simbol Perlawanan

​Aksi ini diwarnai dengan teatrikal visual. Selain menggunakan payung hitam yang identik dengan perjuangan HAM, massa juga menempelkan berbagai poster bernada protes di sekitar area Bundaran Tugu Digulis. Beberapa poster bertuliskan kritik tajam seperti “Rezim Baru Deforestasi” dan “Hentikan Kriminalisasi Tarsisius Fendy Sesupi”.
​Mahasiswa juga mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap lebih memprioritaskan anggaran untuk sektor keamanan dibanding penguatan sektor pertanian yang menjadi hajat hidup orang banyak.


​Berjalan Kondusif
​Meskipun sempat melakukan pembakaran ban sebagai bentuk protes puncak sekitar pukul 17.16 WIB, massa tetap menjaga ketertiban. Personel kepolisian tampak berjaga di sekitar lokasi untuk memastikan arus lalu lintas tetap mengalir meski sempat terjadi pelambatan kendaraan karena warga yang menoleh ke arah massa aksi.
​Aksi berakhir dengan tertib pada pukul 17.50 WIB. Sebelum membubarkan diri, massa mengancam akan kembali turun ke jalan dengan jumlah yang lebih besar jika tuntutan mereka terkait keadilan bagi Andrie Yunus dan penegakan supremasi sipil tidak segera direspons secara nyata oleh pemerintah dan aparat penegak hukum. (Ferry)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *