⚡ Breaking
Jelang Pilkades 2026, Kapuas Hulu Deklarasi Damai Rupiah Menguat ke Rp17.778 per Dolar AS pada Senin Prabowo Siapkan Strategi Menuju Ketahanan Energi Nasional Ramadhipa Cetak Sejarah: Kemenangan Pertama di Moto3 Junior 45.500 Pelari Serbu JAKIM 2026, Wagub: Jakarta Milik Bersama Polisi Tangkap Penipu Tiket Pelni di Kupang BEM Sintang Audiensi dengan Pemda, Kawal Isu Pendidikan-Kesehatan Juara Roland Garros Andreeva Mundur dari Berlin
Lifestyle

Kurang Minum Air Putih, Tubuh Diam-Diam Mengirim Sinyal Bahaya

Oleh | Mei 14, 2026 | 0 komentar | Mei 14, 2026 (diperbarui)

Di tengah kesibukan kerja, mengurus anak, dan rutinitas rumah tangga, satu kebiasaan sederhana sering terlupakan: minum air putih. Padahal, para ahli kesehatan menyebut dehidrasi ringan yang tidak disadari bisa mengganggu kinerja otak, ginjal, hingga sistem pencernaan.

Tubuh 60% Terdiri dari Air

Dokter spesialis gizi klinik menjelaskan bahwa air merupakan komponen utama dalam tubuh manusia. “Air berperan sebagai pelarut nutrisi, pengatur suhu tubuh, pelumas sendi, dan alat transportasi zat sisa metabolisme untuk dibuang,” ujarnya dalam sebuah diskusi kesehatan pekan ini.

Ketika asupan cairan tidak mencukupi, tubuh akan mengurangi produksi urine dan keringat. Akibatnya, racun yang seharusnya dikeluarkan bisa menumpuk dan memicu gangguan seperti infeksi saluran kemih, sembelit, hingga batu ginjal.

Sinyal Tubuh yang Sering Diabaikan

Kepala pusing, mudah lelah, kulit kering, dan konsentrasi menurun sering dianggap sebagai efek kurang tidur atau stres. Namun, menurut data Kementerian Kesehatan, gejala-gejala tersebut juga menjadi tanda awal kekurangan cairan.

“Masalahnya, banyak orang baru minum saat sudah merasa haus. Padahal rasa haus muncul ketika tubuh sudah kehilangan 1-2% cairan. Itu sudah termasuk dehidrasi ringan,” jelas seorang dokter di Jakarta.

Rekomendasi: 2,5 Liter Per Hari untuk Dewasa

Kebutuhan air setiap orang berbeda, tergantung berat badan, aktivitas, dan kondisi cuaca. Secara umum, orang dewasa disarankan mengonsumsi 2 hingga 2,5 liter air putih per hari. Angka ini meningkat bagi ibu menyusui, pekerja lapangan, dan orang yang rutin berolahraga.

Pakar kesehatan menyarankan masyarakat menggunakan warna urine sebagai indikator sederhana. Urine berwarna kuning muda menandakan asupan cairan cukup, sementara warna kuning pekat menjadi tanda tubuh kekurangan air.

Mencegah Lebih Mudah dari Mengobati

Mengatasi dampak dehidrasi sebenarnya tidak rumit. Membawa botol minum pribadi, membiasakan minum satu gelas saat bangun tidur, dan mengatur pengingat minum setiap dua jam menjadi langkah kecil yang efektif.

“Air putih adalah intervensi kesehatan paling murah dan mudah diakses. Jangan tunggu sakit baru ingat minum,” tegasnya.

Dengan cuaca yang semakin tidak menentu dan aktivitas masyarakat yang padat, menjaga kecukupan cairan menjadi salah satu cara paling dasar untuk menjaga produktivitas dan kesehatan jangka panjang.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *