⚡ Breaking
Polres Landak Gelar Senam dan Bazar Murah HUT Bhayangkara Demo BEM Polnep di Polda Kalbar Usut Tragedi 2000 Jelang Pilkades 2026, Kapuas Hulu Deklarasi Damai Rupiah Menguat ke Rp17.778 per Dolar AS pada Senin Prabowo Siapkan Strategi Menuju Ketahanan Energi Nasional Ramadhipa Cetak Sejarah: Kemenangan Pertama di Moto3 Junior 45.500 Pelari Serbu JAKIM 2026, Wagub: Jakarta Milik Bersama Polisi Tangkap Penipu Tiket Pelni di Kupang
Budaya Kalbar

Gawai Dayak Kalbar ke-40 Resmi Dibuka di Rumah Radankg

Oleh | Mei 20, 2026 | 0 komentar | Mei 20, 2026 (diperbarui)

PONTIANAK – Gubernur Kalimantan Barat, Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H., secara resmi membuka pergelaran Pekan Gawai Dayak (PGD) Kalimantan Barat ke-40 Tahun 2026 di Rumah Radankg, Kota Pontianak, Rabu (20/5/2026). Acara yang menjadi simbol pelestarian kearifan lokal ini berlangsung meriah dengan dihadiri sekitar 400 peserta serta jajaran pimpinan daerah.

Kemeriahan acara pembukaan diwarnai dengan lantunan Mars Dayak, suguhan tarian, serta penampilan vokal tradisional yang memukau para tamu undangan. Turut hadir dalam acara ini Wakil Gubernur Kalbar Krisantus Kurniawan, perwakilan Kapolda Kalbar, Bupati Mempawah Erlina, Bupati Ketapang Alexander Wilyo, dan Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan.

Ketua Panitia Pekan Gawai Dayak dalam laporannya menyampaikan bahwa perayaan tahunan ini pada hakikatnya adalah bentuk rasa syukur spiritual dan kultural.

“Pekan Gawai Dayak ini merupakan ungkapan rasa syukur atas karunia, nikmat, serta perlindungan dari Sang Maha Kuasa selama setahun kita bekerja. Kami yakin ke depan, Pekan Gawai Dayak akan lebih baik dan semakin dikenal di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Dalam sambutannya, Gubernur Ria Norsan menegaskan peran penting Gawai Dayak bukan hanya sebagai perayaan adat, melainkan sebagai instrumen pemersatu masyarakat yang majemuk.

“Saya harap Pekan Gawai Dayak dapat terus tumbuh dan berkembang di Kalimantan Barat. Gawai Dayak menjadi simbol mempererat perbedaan di Kalbar dan memiliki potensi besar sebagai kearifan budaya daerah,” ujar Gubernur. Ia juga menyuarakan harapannya agar budaya Gawai dapat segera masuk ke dalam kalender event nasional yang dikenal luas.

Hal senada disampaikan oleh Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan, yang menyoroti tantangan masyarakat adat di era modern. Ia berpesan agar masyarakat Dayak tetap bermartabat, dihargai, dan mampu eksis di tengah pesatnya kemajuan teknologi serta derasnya arus informasi.

“Apapun budaya dan bangsanya, kita diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan yang dari suku per suku. Kita harus saling mencintai dan menyayangi, karena tidak ada satupun anak yang lahir dengan cita-cita memilih dilahirkan di mana,” tegas Krisantus, mengingatkan pentingnya persaudaraan di tengah potensi berita hasutan.

Dari sisi pelestarian hak adat, Sekjen Majelis Dewan Adat Dayak menekankan kebanggaan akan identitas budaya yang telah mendunia. Ia juga menyoroti pentingnya kepastian hukum bagi masyarakat adat. Pihaknya menyatakan telah mengajukan pengesahan Undang-Undang tentang perlindungan dan pengakuan masyarakat hukum adat, serta berharap kapasitas pemangku adat lebih diperhatikan ke depannya.

Puncak prosesi pembukaan Pekan Gawai Dayak ke-40 ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional oleh Gubernur Ria Norsan, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi penyumpitan balon oleh Wakil Gubernur Krisantus Kurniawan.

Setelah penyerahan plakat, rangkaian acara pembukaan yang berjalan dengan aman dan kondusif tersebut ditutup pada pukul 12.30 WIB, dan langsung dilanjutkan dengan semarak pawai arak-arakan budaya di sekitar lokasi acara.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *