⚡ Breaking
Misteri Kematian Sutrimo: Polisi Sisir CCTV Klinik Mordent Petenis Filipina kejutkan dunia setelah singkirkan juara bertahan di babak ketiga OTT Bupati Langkat: KPK Sita Platinum Rp40 Miliar Korupsi Kemenpu: Kejati DKI Tahan 3 Tersangka Baru Indonesia dan Ukraina Berbagi Gelar Juara Umum di World Para Athletics Grand Prix 2026 HUT Bhayangkara ke-80, Polres Landak Gelar Sunat Massal PLN Pastikan Pasokan Batu Bara ke PLTU Berjalan Lancar Pemanjat Indonesia Samai Legenda di Innsbruck
KALBAR

Rektor Untan Klarifikasi Isu Skorsing Massal Mahasiswa

Oleh | Mei 17, 2026 | 0 komentar | Mei 17, 2026 (diperbarui)

PONTIANAK – Rektor Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Prof Garuda Wiko, membantah kabar viral di media sosial yang menyebut satu angkatan mahasiswa mendapat sanksi skorsing akibat kasus dugaan penyalahgunaan teknologi deepfake berbasis kecerdasan buatan (AI).

Ia menegaskan, sanksi skorsing hanya diberikan kepada satu orang mahasiswa yang diduga terlibat dalam kasus tersebut.

“Saya meluruskan bahwa bukan satu angkatan yang diskors. Hanya satu orang saja. Mahasiswa lainnya tetap menjalankan kuliah secara online, karena memang bertepatan adanya kegiatan PKM dosen,” ujar Garuda Wiko saat dihubungi, Jumat 15 Mei 2026.

Menurutnya, mahasiswa yang bersangkutan untuk sementara diminta tidak mengikuti aktivitas perkuliahan hingga batas waktu yang belum ditentukan sambil menunggu hasil pemeriksaan tim satuan tugas.

“Yang bersangkutan diminta untuk tidak mengikuti perkuliahan sampai waktu yang belum ditentukan, menunggu hasil tim satgas menyelesaikan tugasnya. Tentu tim harus berhati-hati memeriksa bagaimana sebenarnya kasus ini,” katanya.

Saat ini, penanganan kasus masih dilakukan oleh tim dan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Untan guna mendalami kronologi serta dugaan penyalahgunaan teknologi AI tersebut.

“Saat ini satgas sedang bekerja secara detail untuk mengetahui bagaimana kejadian sebenarnya terkait dugaan penyalahgunaan mengedit foto menggunakan AI ini. Saat ini tim masih melakukan penyelidikan,” ujarnya.

Rektor Untan juga mengimbau seluruh civitas akademika agar bijak dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan dan tidak menggunakannya untuk tindakan yang merugikan orang lain.

“Kami ingin kampus ini menjadi zona yang nyaman dan aman untuk semua, sehingga suasana akademik tetap terjaga. Berhati-hatilah dalam menggunakan AI, gunakan untuk hal positif dan perhatikan dampak buruk yang bisa ditimbulkan,” pungkasnya.

Kasus tersebut turut memunculkan pertanyaan publik mengenai apa itu deepfake. Teknologi deepfake merupakan bentuk kecerdasan buatan yang mampu memanipulasi gambar, video, maupun suara sehingga tampak sangat nyata.

Deepfake berasal dari gabungan istilah deep learning dan fake. Teknologi ini bekerja dengan mempelajari ribuan foto atau rekaman suara seseorang, kemudian AI dapat meniru wajah maupun suara tersebut secara sangat mirip, seolah-olah orang tersebut melakukan atau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *