Pimpinan Ponpes di Garut Ditangkap Diduga Cabuli Santri
GARUT – Kepolisian Resor (Polres) Garut resmi mengamankan seorang pimpinan pondok pesantren berinisial AN (45) atas dugaan tindak pidana pencabulan terhadap salah satu santriwatinya.
Penangkapan ini merupakan buntut dari keresahan warga yang sempat menggeruduk kediaman pelaku di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut.
Peristiwa ini mulai mencuat ke publik setelah video amatir yang memperlihatkan detik-detik aparat kepolisian menggiring AN keluar dari rumahnya viral di media sosial pada Sabtu (16/5) malam. Dalam video tersebut, tampak massa yang geram meneriaki pelaku saat dievakuasi petugas demi menghindari aksi main hakim sendiri.
Kasat Reskrim Polres Garut, AKP Joko Prihatin, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan resmi dari keluarga korban pada Sabtu siang.
“Laporan masuk pukul 1 siang. Karena situasi di lapangan sempat memanas akibat warga yang mendatangi lokasi, jajaran Polsek Samarang segera mengambil tindakan pengamanan untuk membawa yang bersangkutan ke Polres Garut,” ujar Joko saat memberikan keterangan, Senin (18/5).
Saat ini, AN sedang menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polres Garut. Pihak kepolisian juga tengah melakukan pendalaman dengan melibatkan tenaga ahli untuk memeriksa kondisi psikologis korban.
Dugaan pelecehan ini terungkap setelah korban memberanikan diri bercerita kepada orang tua salah satu rekannya sesama santri. Awalnya, korban hanya mengaku telah diusir dari pesantren, namun setelah dilakukan pendekatan, korban menceritakan perlakuan tidak pantas yang diterimanya dari pimpinan ponpes tersebut.
Kuasa hukum korban, Aditya Kosasih, menegaskan bahwa pihaknya akan mengawal kasus ini hingga tuntas agar korban mendapatkan keadilan.
“Korban awalnya merasa tertekan dan mengaku diusir. Namun setelah diajak bicara lebih dalam, barulah terungkap dugaan perlakuan tidak pantas itu. Kami sudah mendampingi orang tua korban untuk membuat laporan resmi dan berharap proses hukum berjalan transparan,” tutur Aditya.
Polres Garut memastikan akan memproses kasus ini secara profesional. Saat ini, status AN masih dalam pemeriksaan sebagai terlapor guna mengumpulkan bukti-bukti pendukung lainnya.
Kasus ini menambah daftar panjang kekerasan seksual di lingkungan pendidikan keagamaan yang menjadi perhatian serius masyarakat Jawa Barat. Pihak kepolisian mengimbau warga untuk tetap tenang dan menyerahkan sepenuhnya penanganan perkara kepada aparat penegak hukum.
Berita Terkait
kalbar news update
Polri Kerahkan 300 Brimob Atasi Karhutla Kalbar.
Jakarta — Polri memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat dengan mengerahkan 300...
Nasional
Kapolri Tinjau Pengungsian Gempa NTT, Pastikan Bantuan Optimal
MANGGARAI — Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo bersama Ketua Komisi IV...
Nasional
Gempa M7,7 Guncang Sikka: Polisi Gerak Cepat Evakuasi
SIKKA, NTT – Kepolisian Resor (Polres) Sikka bergerak cepat merespons dampak gempa bumi bermagnitudo M7,7 yang...
kalbar news update
Polisi Ajak Mahasiswa dan Komunitas Bahas Isu PETI hingga Knalpot Brong Lewat Jumat Curhat Polres Landak
NGABANG — Polres Landak kembali menggelar program Jumat Curhat sebagai wadah komunikasi langsung antara kepolisian dan...