⚡ Breaking
Polres Landak Gelar Senam dan Bazar Murah HUT Bhayangkara Demo BEM Polnep di Polda Kalbar Usut Tragedi 2000 Jelang Pilkades 2026, Kapuas Hulu Deklarasi Damai Rupiah Menguat ke Rp17.778 per Dolar AS pada Senin Prabowo Siapkan Strategi Menuju Ketahanan Energi Nasional Ramadhipa Cetak Sejarah: Kemenangan Pertama di Moto3 Junior 45.500 Pelari Serbu JAKIM 2026, Wagub: Jakarta Milik Bersama Polisi Tangkap Penipu Tiket Pelni di Kupang
kalbar news update

Padel: Saat Olahraga Raket Jadi Gaya Hidup Baru Warga Kota

Oleh | Mei 9, 2026 | 0 komentar | Mei 9, 2026 (diperbarui)

Gaya hidup warga kota kini disibukkan dengan olahraga yang sedang hits: padel. Setiap sore hingga malam, lapangan kaca berdinding tak pernah sepi dari teriakan “Milikku!”, tawa lepas, dan suara bola memantul. Dari eksekutif muda sampai ibu rumah tangga, semua rebutan booking slot. Padel bukan lagi sekadar olahraga, tapi statement gaya hidup 2026.

Dari Meksiko ke Lapangan Komplek

Padel lahir tahun 1969 di Acapulco, tapi baru booming di Indonesia sejak 2023. Puncaknya terjadi 2025-2026: jumlah lapangan melonjak 300% menurut Asosiasi Padel Indonesia. Di Pontianak saja, dalam setahun muncul 5 venue baru.

Aturannya sederhana: dimainkan double di lapangan 20×10 meter berdinding kaca. Raketnya padat tanpa senar, bolanya mirip tenis tapi tekanan udaranya lebih rendah. Bola boleh memantul ke dinding—di sinilah letak serunya. Tak perlu skill dewa kayak tenis, tapi tetap bikin ngos-ngosan.

Kenapa Padel Bikin Kecanduan?

A. Sosial Banget
Padel wajib berempat. Artinya, pemain dipaksa ngobrol, kerja sama, dan ketawa bareng. Bagi banyak pekerja, main padel 1 jam bareng teman jadi pelepas penat setelah seharian beraktivitas. Tak sedikit ibu rumah tangga yang menjadwalkan rutin main tiap minggu sebagai me time versi sehat.

B. Ramah untuk Lutut & Pemula
Lapangannya lebih kecil dari tenis dan bolanya lebih lambat. Gerakannya low impact, sehingga aman buat usia 30-an ke atas atau yang punya riwayat cedera lutut. Meski begitu, 1 jam main bisa bakar 400-600 kalori dan masuk kategori cardio intensitas sedang.

C. Lifestyle Package Komplit
Main padel tak selesai di lapangan. Hampir semua venue padel kini bundling dengan kafe estetik, lounge, dan spot foto. Outfit-nya pun jadi ajang gaya: rok skort warna pastel, topi trucker, sampai raket edisi kolaborasi. Instagram & TikTok penuh dengan #PadelLife. Olahraga ini menggeser nongkrong kafe sebagai agenda sosial.

Harga Gengsi vs Komunitas Inklusif

Tak bisa dipungkiri, padel punya citra eksklusif. Sewa lapangan berkisar 200-400 ribu/jam, raket bagus mulai 1,5 juta. Awalnya memang didominasi kalangan menengah atas.

Tapi tren 2026 mulai bergeser. Komunitas-komunitas padel membuat sistem “patungan rame-rame”. 1 lapangan dibagi 8 orang, main 2 jam, per orang cukup 50 ribu. Ada juga program Padel for Mom di jam pagi dengan harga khusus. Tujuannya: bikin padel lebih merakyat.

Sisi Kesehatan: Bukan Cuma Gaya

Selain bakar kalori, padel melatih koordinasi mata-tangan, refleks, dan kelincahan. Karena mainnya tim, hormon endorfin keluar dobel: dari olahraga sekaligus interaksi sosial. Efeknya ke mental health cukup signifikan.

Meski low impact, warm up tetap wajib. Cedera pergelangan tangan dan bahu bisa terjadi kalau teknik salah. Hidrasi juga penting selama bermain.

Padel membuktikan satu hal: tren olahraga 2026 sudah bergeser. Masyarakat tak lagi cari olahraga yang menyiksa demi body goals. Mereka cari yang sustainable, seru, dan bisa jadi ajang sosial. Padel membungkus ketiganya dalam satu lapangan kaca.

Jadi, kalau gym bikin bosan dan lari sendirian terasa sepi, mungkin sudah saatnya coba teriak “Vamos!” di lapangan padel. Siapa tahu, raket tanpa senar ini jadi alasan kamu jatuh cinta lagi sama olahraga.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *